Kamis, 25 November 2010

Edisi Alasan Mager

Selamat pagi,
Doh blog ini kenapa jadi gak gerak – gerak yah arsipannya? Biasalah, yang punya blog lagi ketiban virus males 10 container dari dunia mimpi. Kerjaannya ngkhayal mulu nieh!!! (selalu itu alasannya)

Ngomongin males, aku punya alasan lain kenapa jadi males kagak ketolongan gini:

  • Lagi bosan, karena gak ada sesuatu yang baru.
  • Lagi pengen cari penemuan baru.
  • Kurang puasa dengan hasil sebelumnya, jadi kurang semangat.
  • Lingkungan mendukung untuk males.
  • Disiplin menurun secara dratis.
  • Kecawa karena rumput tetangga kok lebih OK punya dari punya saya. (rumput yang mana?? Eaaaa)
  • Cemas dengan kelangsungan hidup, karena duit belum juga keisi Full.
  • Karena baru di ajak kenalan sama setan males. Untung aje dia kagak naksir ane. huhuhu
  • Dll. Yang gak bisa disebutkan satu demi satu, kata demi kata. (males kan??)

Segelintir poin di atas itu emang alasan yang mengada - ada, bahkan aku kurang paham juga kenapa aku punya alasan demikian, apa mungkin aku berbakat untuk mencari alasan? *BANGETTTTT ITUU* #NamparDiriSendiri

OK, yang ini serius. Kadang males itu sebuah hasil dari pekerjaan, perbuatan, prilaku yang dilakukan kurang maksimal. Akhirnya ada sedikit kekecewaan, nah rasa kecewa itulah menghambat rasa semangat dalam diri sendiri. Akhirnya kalu kita terbawa dalam situasi kecewa + nggak semangat, maka kemalasan itulah yang memeluk kita dengan erat. (Ini hasil analisa pribadi, anda boleh tidak mengIyakan. Itu hak anda.)

Tapi males yang sering aku rasakan gak berlangsung lama, beberapa hari juga pasti normal lagi. Semangat lagi buat ngerjain ini, itu. Kita manusia biasa, wajarlah merasakan hal demikian, asal tidak berlarut – larut. Kalu kita merasa mager (males gerak), mungkin itu signal untuk segera beristirahat. Biar capeknya gak numpuk dan nagih ‘kemalasan’ bertubi – tubi dilain waktu.

Dan ingatlah, selalu fokus untuk memaksimalkan hari ini. Agar tidak ada rasa kekecewaan di kemudian hari.

Loh, kok saya jadi semangat lagi?? Yeahh, virusnya mati tak bacain Ayat kursi. Halah :))

Senin, 15 November 2010

Edisi Obrolan Di PizzaHut

Kemaren siang (dikala macet dan panasnya samarinda) aku menyempatkan lunch bareng @t27a_tika di Pizza hut. Ehmmm, menu yg kita pilih tak sama, tapi cukup serasi dengen minuman lemon tea dan strawberry tea... kuning-keemasannya lemon dan merahnya strawberry seperti anak pelangi gagal tampil yang kita ciptakan sendiri dalam imajinasi... (menyedihlan Tere harus lunch sama orang yang otaknya kegeser 10meter. Tapi makin ok loh katanya... #halah)

Lalu aku gak malu bilang ke dia, 'Gelasnya bagus dah. Pengen aku bawa pulang.' dia jawab 'Hahaha...' !!! Yah, aku emang suka ngiler kalu liat gelas dan mug coffee yang bagus, bawaannya pengen dislundupin aje.

Kebiasaan kita kalu sudah berhadapan wajah, selalu bertukar pikiran. Aku yang punya sedikit cerita, dia juga demikian, lalu di gabungkan jadi kesatuan. Maka siang itu kita punya cerita yang 'besar' dan bergelombang bagai ombak di pantai kuta Bali. Yang sulit jadi mudah, yang gak mungkin jadi mungkin, gak semangat jadi semangat, gak tau jadi tau, dan keajaiban lainnya itu rasanya sulit untuk di terjemahkan lewat kata.

Sembari menikmati spaghetti asian apaa gitu, menu baru. Ganjen pengen icip. walau aku menyesal memilih menu ini. Padahal aku bilang ke Tere, 'Ehmm, rasanya Indonesia sekali..' dia jawab, 'Pastinya. banyak rempahnya..' padahal maksudku, KOK BANYAK TAHUNYA KETIMBANG DAGINGNYA???? Beberapa kali suara hati ingin memesan menu yang baru, tapi spaghettiku masih sangat banyak. Tidak mungkin aku membuang makanan. Tere tak tau kalu aku sangat tidak berselera dengan menu itu. Tapi aku berfantasi saja kalu potongan dadu tahu - tahu sutra itu daging sapi. Aku iri dengan menu yang kamu pilih Tere, penuh daging, sayur, dan ADA NASIIIIINYAAA.... Huaaaaahaaa

Kulanjutkan ocehanku tentang masa depan, mimpi terselubung, dan kicauan tentang twitter. Eh, Tere baru tau apa itu bot. Dan dia bilang 'Gak ada kerjaan banget sih... Mentionku penuh sama bot.'. Aku tertawa, karena mukanya ingin nemuin pembuat bot itu dan menyiramnya dengan sebotol tabosco super pedas yang ada di meja. Ok. ini khayalanku saja, tidak mungkin Tere memiliki khayalan sekeji itu...

Obrolan paling ohkehhh seantaro dapur pizza hut is 'Agnes Monica'... Rasanya, meja kita bersebelahan dengen dapur utama. Entah apa dan kenapa, kita selalu menyeretnya dalam setiap topik pembicaran. Dia yang mau go internasional sampai sifatnya yang sangat global 'bangeddd'... Iyahh, kita berdua ngfans sama isi otaknya dan semangtnya yang membuat semua 'jadi mungkin'...

Tapi yang heran kita gak pernah bingung sama obrolan yang jumping. Karena setelah ngbahas, bagaimana pasar musik Indonesia, apa pengaruh mengganti vokalis band, sampai masalah calon anak, kita langsung ngbahas negara apa yang jarang ada demonstrasi??? Itu pertanyaan yang ajaib dari otak sekecil punyaku... 'Ada si Van. Tapi gak tau nama negaranya apa???' mungkin itu negara yang damai sentosa yah??? Lalu kita setuju kalu demonstrasi itu childish dan gagal menggunakan metode komunikasi yang seasik kita berdua. Iya kan Re??? ;) #dilemparinmangga

Makanan utama sudah habis, Tere memotong puff pizza dan menaruh di piring polosku dengan pinggiran bergambar paprika, itu pizza hut banget yah?? Sampai bosen liatnya. So, aku berpikir kita makan puff pastry yang renyah, seharusnya tak perlu pake garpu dan pisau. Tapi untuk menghormati tata cara makan yang benar, aku ikuti saja makan pake pisau dan garpu. 'Re, kulit puff pastry pizzanya bandel yah gak mau terpotong di hitungan 15 detik???' batinku mengirim SMS tanpa pulsa ke Tere dan ke pembuat pizza ini... *muka sebel dan pengen cepet - cepet ngunyah pizzanya*

Setelah abis potongan pizza pertama, aku balas lagi motongin pizza buat dia terus naruh di piring yang tercecer saos tanpa bentuk yang jelas. #GakMauKalah :p

*bersambung*

Sabtu, 13 November 2010

Edisi Pilek

Postingan kemaren itu rada random yah kalu di baca??? seharusnya aku nulis yang versi lengkapnya, tapi entah kenapa aku nulis di singkat - singkat seperti itu.

Apa yang terjadi di postingan hari ini???

"PILEK"

Alergi ku sama cuaca dingin dan debu, makin memperparah produksi cairan lembut di hidung. Gak minum obat?? Tidak, Cukup teh panas tawar yang bisa menstabilkan kondisi tubuhku saat ini. Bisa jadi ini kegiatan begadang yang terus menerus terjadi tanpa rencana. Bukan kehendakku. Fungsi radar ngantukku sedikit 'konslet'. HehehE....

Makin sedih lagi, karena kamar masih berhambur dan setiap bernafas semacam ada debu yang masuk ke hidung secara diam - diam. Sekarang harus beresin ini itu dulu barus bisa merebahkan tubuh yang rapuh*untuk malam ini aja... Besok semangatttt lagi.. Harus ituuu*.

Terbayang kan, orang lagi pilek sambil beberes kamar?? *INGUS DIMANA - MANA*

Kamis, 11 November 2010

Edisi Seniman

Rasanya beberapa hari ini saya diliputi rasa penasaran karena otak lagi merangkum “Bagaimana memperkerjakan bakat?”. So, mumpung ada waktu untuk nulis diblog, saya akan mengikuti maunya si otak untuk berceloteh singkat. Sumbernya dari indra pendengar dan penglihat saya yang acap kali tak sengaja memantau narasumber.

Dari cerita keluarga saya dulu. Ehmmm, banyak yang gak kira kalu saya ini memiliki darah seniman (dikit) yang sebenarnya tak begitu peka untuk menjadi pelakon seni. Selain saya, dikeluarga ini juga ada kakak pertama mama yang lebih peka dengan orentasi seninya. Om saya HEBAT buat skesta yang berasal dari imajinasinya sendiri, mentatto, dan menggambar dengan detail. Itu tak ada di saya, karena saya ini hanya penikmat seni, bukanlah pelaku yang membuat karya seni. Nah, kalu diliat finalsial dari pekerjaanya, emang kurang memuaskan. Ia hidup sederhana dan cukup disayangkan tidak mencari pekerjaan yang bisa melancarkan penghasilan aktif. Belakangan ini malah dia kurang berusaha lebih gigih untuk membentuk bakatnya jadi pekerjaan yang luar biasa. Padahal aku sangat kagum sama bakatnya, “Cukup disayangkan ini terjadi padamu om.” Sering batinku berucap ketika bertemu beliau.

Mungkin bagi seniman, uang bukan karya yang bisa dibanggakan. Karya, akan trus ada dan menyatu dalam jiwa. Tapi uang, akan terus menghilang tanpa makna. Mereka lebih sering mendengar apa kata hati untuk bisa bertahan hidup. Karya yang mereka ciptakan seperti harta karun/barang berharga, dan itu melebihi kekayaan orang lain.

Intinyanya, ketika seorang seniman memutuskan akan hidup dengan keahliannya, maka Itu seperti berinvestasi dalam jangka panjang. Hasilnya tidak bisa dirasakan langsung, tapi bertahap, tergantung sebagaimana kerja keras dia untuk berusaha agar bakat ini bisa menghasilkan feedback yang baik.

Buat saya sendiri (kedepannya) akan tetap mencari pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan aktif setiap bulan. Demi mempertimbangkan ‘kenyataan hidup’ yang saya jalanin saat ini. Setelah itu beres, (mungkin) barulah saya akan memikirkan bagaimana hobby saya yang suka berimajinasi lewat kata bisa menghasilkan sesuatu. Toh, memprioritaskan kebutuhan bukan keinginan, sesuatu tindakan yang bijaksana.

Kamis, 04 November 2010

Edisi Gombal Gagal

Tuips (halah, dikira ngTwitter apah??), tadi waktu sarapan ada yang bisikin kaya gini, “Van kamu kalu nggombal pasti gagal…”!! aku marah, kuhancurkan semua piring makan, gelas, aku bengkokin sedok garpu, sangking brutalnya, meja makan pun tak luput aku telan. Ok, gilanya kambuh.

So, langsung saja disimak gombalan gagal dibawah ini :

Cowok: “Kamu bakat masak yah???
Cewek: “Nggak. Malah gak bisa masak.
Cowok: “Boong, buktinya mukamu mirip teflon. Datar.
Cewek: *nampar cowoknya.*

Cowok: “Liat mukamu kaya malaikat...”
Cewek: “Malaikat apa yank?”
Cowok: “Malaikat penyabut nyawa.”
Cewek: “SEEETTTTTAAAANNNNNNNN!!!!”

Cowok: “Ahhh, aku selalu sesak nafas kalu dekat kamu.
Cewek: “Karena aku cantik? Sexy? Genit ihh kamu…”
Cowok: “Sesak nafas liat mukamu yang ancurr...”
Cewek: *ngeludahi muka cowoknya*

Cewek: “Sayang, kamu makin muda-an aja.”
Cowok: “Aku sekarang aktif olahraga yank.”
Cewek: “Mudanya kamu, kaya tanggal di kalender itu deh. kamu sudah gajian kan? Bayarin kostan aku dong???”
Cowok: *ngelempar ceweknya ke tengah laut*

Cewek: “Matamu bersinar bagai batu ruby merah yang menyala.”
Cowok: “Gombalan mu basi.”
Cewek: “Ngaca deh sekarang!! Liat tuh, kamu sakit mata kok gak nyadar?”
Cowok: *ngeculek matanya sendiri pake sumpit*

Yang punya stok gombalan gagal, persilahkan di tambah ke kotak komentar. :)

Senin, 01 November 2010

Edisi SelfPublishing

Biar gak lupa kalu tadi di timeline twitter ada yang ngshare #SelfPublishing yang sangat berguna untuk aku, langsung deh ngelipir diblog sendiri. Draft yang aku tulis ini gak copy paste, tapi aku tulis ulang dengan kemasan gayaku sendiri, karena ini emang buat catatan pribadi saja…

“Mempromosikan dan menjual buku sendiri ternyata punya sisi yang berbeda dengan menerbitkan buka lewat penerbit.”

Menerbitkan buku di jalur penerbit emang susah – susah gampang, selain banyak pesaing dan tentunya ini seperti berinvestasi dalam waktu jangka panjang. Tapi kalu sudah ketemu penerbit yang royal dengan calon penulis mungkin segalanya akan mudah, biaya produksi awal akan di tanggung, promosi sampai distributor pun sudah di urus oleh mereka.

Lalu bagaimana dengan script calon penulis ketika karyanya tidak diterima oleh penerbit ?? Jangan berkecil hati, kalu kita yakin dengan kualitas tulisan kita seharusnya bisa menggunakan jalur SelfPublishing. Kelebihannya, kita tidak perlu menunggu segitu lamanya untuk menerbitkan karya kita, tidak perlu bolak – balik revisi dan mengikuti keinginan serta masukan dari editor, dan kita bisa menerbitkan apa pun, kapan pun yang kita suka.

Sebelum SelfPublishing dimulai, kiranya perlu diketahui beberapa point dan note di bawah ini :
  1. Selesaikan script buku yang akan di terbitkan, revisi ulang kalu perlu. Ingat: Kualitas tulisan harus jadi modal utama.
  2. Cari editor yang bisa diandalkan untuk membantu kesiapan ini.
  3. Pendanaan, karena semua dikerjakan sendiri, maka kita perlu untuk menyumbangkan dana pribadi sebagai modal. Biaya itu akan digunakan untuk percetakkan, promosi, dan distributor.
  4. Percetakan, harus cari yang terbaik dan sesuai dengan konsep yang kita buat.
  5. Distribusi, kita harus mencari distributor (pihak yang akan bernegosiasi dengan pihak toko buku agar buku kita bisa di pasarkan di toko tersebut) yang tepat, agar distribusi buku kita pun bisa di kenal calon konsumen. Kalu ingin memperluas jaringan distribusi pun bisa lewat dunia maya, seperti web pribadi atau social network.

Bila langkah diatas sudah memenuhi standar yang kita inginkan, maka karya kita berupa buku akan siap berlayar ke calon pembeli. Tinggal kita saja yang harus merencanakan langkah berikutnya, seperti: Dana, apabila ada cetakan ulang, membuat strategi pemasaran yang baru, dan membuat karya berikutnya tentunya.

Thanks buat mbk @windyAriestanty… :)